Jumat, 01 Februari 2013

Ini Dinamika, Bung!


“Manis, asem, asin, rame rasanya!!”
                Aku gak sedang membicarakan rasa permen yang dulu pernah hits banget ya, apalagi buat promosiin permen baru. Aku lagi cerita rasa cinta (loh?). Kalau boleh aku tambahin, pahit, kecut, juga terkadang hambar, melengkapi rasa yang ada di Dinamika, salah satu organisasi intra kampus yang aku geluti hingga saat ini. Kalau ditanya sama beberapa orang yang juga menggeluti sebuah organisasi, sebenarnya mereka juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi tentu aku gak bisa menjelaskan secara terperinci perbedaannya, karena aku gak sedang/pernah menjalani semua organisasi (gempor, gilaaak), tapi aku hanya memilih satu, LPM Dinamika. Eits, jangan mendramatisir, ini bukan karena apa-apa, tapi karena memang gak boleh pasang dua apalagi lebih. Hadeh, selingkuh itu memang udah tabiatnya dilarang. (loh, koq kesana?)

                Kalau para pujangga tidak pernah kehabisan kata untuk mengurai makna cinta, aku malah gak pernah kehabisan kata untuk mengurai kenangan di Dinamika (idih, bahasanya ya). Sewaktu OPAC, aku memilih organisasi dengan melihat organisasi mana yang pimpinannya paling cakep, dan akhirnya terpilihlah dinamika (tong sampah mana tong sampah?). Karena terhipnotis dengan kecakepan sang pimpinan, aku sampe gak dengerin apa yang dia omongin saat itu, kalau ternyata majalah ini menelurkan berita kampus, dan bakal bergelut di bidang jurnalistik (Jiaaah, bukan, sama sekali bukan karena itu, sumpe deh, gak semua yang loe baca ini bener).
                Berawal dari obsesi aku untuk bisa bergabung dengan komunitas yang menghasilkan produk majalah, sampe-sampe waktu itu gak peduli apakah itu majalah mau tentang berita kampus atau majalah po*no sekalipun (toeng), yang penting aku bisa bergabung dalam komunitas yang menghasilkan sebuah majalah. Nah, akhirnya kecemplung lach di Dinamika. Tapi aku pikir ini malah jadi satu bonus. Gak semua penulis adalah jurnalis, tapi semua jurnalis adalah penulis, setuju gak?
                Banyak yang udah kita lalui bareng-bareng, berapa banyak tawa dan air mata yang tumpah di sini. Semuanya karena Dinamika (jangan serius kali). Jadwal bentrok, waktu mepet, bersitegang dengan pihak fakultas atau biro, narasumber yang beraneka ragam, belum lagi dikejar deadine, dll, udah jadi makanan sehari-hari buat anak Dinamika. Terlebih lagi larangan orang tua, semua anak Dinamika pasti ngalami hal ini. Bicara masalah larangan orang tua, aku jadi teringat dengan masa-masa dimana aku sering bersitegang dengan orang tuaku yang melarang aku di Dinamika. Kuliah terbengkalai, kesehatan yang terabaikan, waktu yang sedikit banget buat keluarga (idih, mank aku udah nikahan?), dan banyak hal lainnya yang menjadi kekhawatiran orang tua.
                Ada satu kejadian saat aku sedang meliput sebuah demo yang terjadi di Biro Kampus. saat itu keadaannya sangat ricuh dan sempat adu fisik, pendemo menutup semua akses keluar masuk Biro –termasuk jalur tikus (toeng), yang menyebabkan aku dan beberapa kru terjebak di dalamnya. Dan sialnya saat itu aku berpapasan dengan salah satu antek-antek keluarga yang turut melarang aku di Dinamika. Spontan aku kalap donk, bukan karena pendemo yang mulai saling menumpahkan darah, tapi karena tertangkap basah sedang liputan. Karena panik, aku masukin ID card ke mulut –rencananya- tapi gak jadi karena gak muat. Akhirnya aku masukin ke dalam baju, karena gak punya kantong. Dan segala peralatan liputan lain, seperti alat tulis dan Handphone –buat merekam- aku serahin ke orang sebelah (kirain kru juga, rupanya pendemo, sial). Karena orang Indonesia selalu untung dalam keadaan apapun, termasuk aku, jadi untungnya saat itu aku gak sedang pake baju pers. Jadi, gak perlu pake acara buka baju, trus lempar ke penonton (loh?).
Antek-antek keluarga: “Lagi ngapain nuri di sini?”
Aku: “hmm, anu, lagi anu,” (kalap banget waktu itu)
Antek-antek keluarga: “apa? Panu? Ini bukan toko obat, ini Birooo,”
Aku: “???, #gubrak”
                Lebih kurang gitu lach percakapannya. Walaupun udah bersilat lidah, tapi tetap aja ketahuan. Satu hal yang terbesit saat itu adalah, aku malu, gak berani atau apalah namanya untuk nunjukkin ID Dinamika. Keliling kampus saat liputan pake ID card juga malu rasanya, diliatiiin gitu sama orang-orang. “Ich, tu orang apa monyet?”, lebih kurang mereka bisik gitu lach (apa hubungannya?). Padahal di situlah identitas yang seharusnya dijunjung tinggi seorang pers, termasuk persma. Tapi itu dulu, sekarang udah gak (yang percaya, murtad!). Pasalnya, setiap kali aku nunjukkin ID card, aku bisa lolos, baik ketika menghadiri sebuah acara atau saat ketilang polisi (hahaha,, #ketawa setan. Yang ini jangan ditiru ya).
                Sampe-sampe sekarang orang tua aku gak ngelarang lagi aku di Dinamika, salah satu alasannya karena ID card. Kalau ngeliat ID card, seolah-olah mereka ngeliat uang segepok gitu makanya diem (gak deng). Ceritanya waktu itu aku lagi sakit, diboncengin sama ayah buat berobat ke Klinik Tong Fang. Di tengah jalan ada razia, ayah panik dan dia putar arah. Beberapa saat kemudian dia bilang:
Ayah: “Seharusnya tadi nuri aja ya yang bawa keretanya,”
Aku: “Koq gitu?” (dalam hati, “iya, abis itu kita langsung nyemplung ke kuburan”)
Ayah: “Khan nuri punya kartu pers,”
Aku: “Gubrak”
Kalau tadinya ayah bener-bener ngelakuin rencananya, trus ntar aku harus bilang apa ke pak polisinya? Mungkin percakapannya bakal jadi kayak gini:
Polisi: “Selamat siang buk, mohon STNK-nya.”
Aku: Sambil menoleh kanan kiri trus bilang “Sapa yang ibuk-ibuk, pak? Aku masih perawan ting-ting.”
Polisi: “Owh maaf, tante.”
Aku: Gigit sendal.
Polisi: ??? “Mohon STNK nya.”
Aku: Dengan bangga nyodorin kartu pers sambil bilang, “Saya pers, pak. Sedang liputan.”
Polisi: “Maca’ cih? Tius bapak ne capa (sambil nunjuk ke ayah)?” (polisinya alay rupanya)
Aku: #Nepok jidat!! Gak mungkin aku bilang, “Tadi saya nemu bapak ini di jalan trus saya angkut aja.” atau “Saya juga gak tau, bapak siapaaa?” (Astaghfirullah, bercanda)
                Itu cuma satu kejadian aja, juga satu alasan persetujuan mereka buat aku tetap stay di Dinamika. Alasan lainnya, kasih tau gak yaaa? Mau tao aja atau mau tao bangeeet? (kumat alaynya). Alasannya karena apa yang udah aku hasilkan berkat Dinamika. Mulai dari majalah, bulletin, buku sampai link-link yang gak pernah aku duga. Semua itu berkat Dinamika (asyeeek).
                Seperti yang aku katakan di awal, gak akan habis kata untuk bercerita tentang Dinamika. Tapi yang aku tahu pasti bahwa Dinamika punya kesan tersendiri di hati para fansnya, ech, kru maksudnya.  Dan buat aku, gak bisa dipungkiri kalau Dinamika udah berhasil ngerubah aku jadi wonder girl (yang ini ciyus), setidaknya berlipat-lipat lebih kuat dari nuri yang dulu. Terlepas dari itu semua, memang gak ada yang sempurna, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Satu hal yang aku tekankan adalah kita ini keluarga, bukan ‘seperti’ lagi, meski tanpa hubungan darah. Yang namanya keluarga, kalau udah disatukan dengan kasih sayang semuanya bisa teratasi, insyaAllah.
                Di luar itu semua, aku berharap Dinamika tetap dapat menunjukkan eksistensinya pada publik. Dan di balik candaan yang gak pernah luput menyelimuti kita, kita harus tetap ingat bahwa kita punya tanggung jawab, bukan hanya pada diri kita, tapi juga pada lebih kurang 6000 mahasiswa IAIN, dan memungkinkan juga pada masyarakat di luar sana. So, tep semangat guys. Salam cetar, jos gandos, halilintar atau apapun yang lagi nge-trend saat ini, tapi tetep, SALAM PERSMA!! J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar